Kamis, 06 Desember 2012

Muslimah ‘Resmi’ Yang Di Sandang


Assalamualaikum,
Menarik untuk di jadikan cerminan dan pengalaman berharga tentang bagaimana memulai hijab. ‘Berwarna’ cerita yang saya dengar saat masih belum menutup apa-apa yang di haruskan untuk melindunginya. Saya seorang amatir dalam berhijab dengan memproses diri agar hijab yang dipakai saat ini menjadi lebih baik lagi di mata Sang Al Malik.
Tidak lah mudah dalam hal ini, saat itu tentunya. Walaupun kalangan keluarga bisa dapat terhitung yang berhijab, saya sama sekali tidak terprioritaskan untuk menyusul setelahnya. Pun teteman saya yang kebanyakan memang mengidentitaskan diri dengan berhijab. Pandangan saya saat itu, hijab adalah kesiapan penuh para orang tua sebagai bentuk kedewasaan dalam kereligian. Tua-hijab-haji-mati.
Begitu kira-kira, bisa di baca bahwa kakunya saya akan hal-hal keimanan seperti itu, Astagfirullah. Tidak ada diantara para sahabat yang memaksa saya untuk berhijab seperti kebanyakan orang. Tidak sama sekali, sampai..
[2 Ramadhan 1429 H, selepas Tarawih]
Saya merasa ada yang saya pikirkan namun tidak tahu apa yang di jadikan masalah. Saya bingung. Hati saya tidak tenang. Saya diam, mencari apa-apa yang ada dalam otak saya. Tidak juga saya temukan persoalan apa yang menghinggapi saya. Saya menangis. Dalam kamar saya sendiri, tidak ada Ayah-Ibu-kakak-adik saya yang bisa mengalihkan kebingungan saya yang kala itu ada di luar kota semua. Saya tidak mendapatkan apa-apa dalam pikiran saya.
Ternyata, hati saya yang menautkan sesuatu. “Saya ingin berhijab”, kata-kata itu keluar begitu saja tanpa saya sadari. Saya menangis lagi. Ada alasan mengapa saya menangis saat itu. Saya takut, keinginan saya berhijab adalah suatu tren semata. Saya kembali bingung. Sambil berdoa, mencoba apa yang sekira nya Rabb tunjukkan saat ini bisa segera saya tangkap maksud Nya.
Akhirnya, saya berniat dalam hati untuk memulai menghijabi kesemuanya. “Robbi, hijab ini untuk Mu saja”, itu . Saya tidak mau berjanji apa-apa. Hanya meminta perkuat hati dengan kematangan niat. Secara spontan, meminta doa dari Ayah-Ibu-kakak-adik atas niatan baik ini. Penting menurut saya, karena dukungan keluarga adalah sumbu energi positif dalam hidup saya, and so you, sisters.
Keesokan harinya, saya benar-benar meneruskan niat baik itu dengan berhijab. Suatu hal yang dulunya masih sangat jauh dari daftar keinginan saya. Subhanallah. Hari pertama yang saya kira berat, dimudahkan Allah (kedip mata ke langit). Hal-hal baik secara otomatis merubah apa yang dulu jarang saya lakukan. Menjaga perilaku lebih hati-hati, tata bahasa yang lebih baik lagi dan cara berpakaian yang lebih santun lagi. Tiada lagi motto “menghijab hati dahulu sebelum terhijab aurat”.
Ibarat Ilmu, hidayah merupakan suatu hal yang harus didatangi. Bukan datang dengan sendirinya. Apalah usaha tanpa doa. Perintah Hijab merupakan bentuk kasih sayang Allah pada tiap perempuan untuk melindunginya, merawatnya, memberinya pengampunan, menjihadkan diri dan mengidentitaskan dirinya agar kita, muslimah, menjadi tenang dimanapun berada tanpa fitnah mata dari arah yang tak terduga.
Dan sahabat, pentingnya mengetahui dasar-dasar hijab menurut rujukan Al Quran tidak boleh di sepelekan. Jangan sampai hijab ini membuat diri kita ingin di rasa istimewa oleh manusia. Mintalah kebaikan Rabb karena hijab kita, agar dapat tersambung cepat bertemu dengan Nya di hari akhir kelak. Jadikan hijab adalah ‘nasihat’ tindakan kepada sahabat yang lain.
Mari jadikan diri menjadi muslimah yang berkualitas di mata Allah. Agar kelak derajat kita adalah di sisi Nya, tempat terbaik dari segala Nya.
Wassalamualaikum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar