Kamis, 06 Desember 2012

Cobaan Mendekatkanku Pada Allah & Hijab

Assalamualaikum,
Ini cerita proses saya berhijab..
Saya terlahir dari keluarga muslim,tapi keluarga kami tidak agamis. Jadi berbeda dengan kebanyakan teman yang lain yang orang tua nya meminta berhijab ketika sudah baligh, keinginan berhijab benar-benar dari diri saya sendiri. Walaupun tidak agamis, alhamdulillah saya masih di fasilitasi orang tua untuk les mengaji. Dan juga saya selalu dikelilingi teman dan sahabat yang agamis, dan saya bersyukur untuk itu.
Keinginan berhijab muncul ketika saya kuliah, sekitar semester 4 kalau tidak salah ingat. Ketika itu saya menyicil menyiapkan beberapa baju dan kerudung yang saya beli dari hasil menabung uang saku saya. Ketika merasa persiapannya sudah cukup, saya memberitahu sahabat-sahabat terdekat bahwa saya akan memakai hijab, tentu saja mereka senang sekali (kebetulan sahabat-sahabat terdekat saya semua berhijab).
Kemudian saya meminta ijin kepada kedua orang tua, mama tidak masalah dengan keputusan saya. Bapak saya justru yang menentang keputusan saya berhijab, begini kira-kira jawaban beliau ketika itu: ‘ngapain pake jilbab, ga pake jilbab juga cantik koq’. Betapa kecewa hati saya ketika itu, tapi saya diam tak berani menjawab lagi, karena bapak adalah orang yang keras dan otoriter. Saya hanya bisa menangis di depan sahabat saya ketika itu. Akhirnya, saya tidak jadi berhijab, keinginan saya terlupakan dan tidak mau tahu lagi dengan urusan hijab sebagai bentuk kekecewaan saya kepada bapak.
TAHUN 2008-2009
Saya sedang menyelesaikan program profesi apoteker. Ketika itu hubungan dengan orang tua dan keluarga tidak ada masalah. Pada bulan maret 2009 itulah datang cobaan dari Allah, kehidupan saya yang (Alhamdulillah) selalu mulus dan lancar, tiba-tiba berubah.
Singkat cerita, saya dan pacar difitnah oleh kakak tertua saya di depan mama saya, dan sedihnya mama saya lebih mempercayai orang yang sudah 8 tahun meninggalkan dan mempermalukan keluarga. Mama bahkan tidak mau menerima pembuktian saya terhadap tuduhan-tuduhan ngawur itu. Dan sejak itulah hubungan saya dengan orang tua memburuk. Saya benar-benar merasa sendiri, tidak ada tempat berkeluh kesah mengadu selain pacar saya.
Saat itulah saya lebih mendekatkan diri pada Allah (bukannya sebelumnya eggak lo ya…), saya merasa tenang sekali,tidak ada kekhawatiran lagi karena semua saya pasrahkan pada Allah SWT. Dan di momen itulah saya kembali teringat pada keinginan saya berhijab. Saya nekat saja ga pake ijin-ijin lagi sama orangtua (karena hubungan sedang memburuk), cuma sempet bilang sama kakak laki-laki saya, pacar, dan salah satu teman kos (yang akhirnya meminjamkan beberapa kerudungnya untuk saya pakai sementara). Alhamdulillah mereka semua mendukung…
Maka jadilah tanggal 23 april 2009 pertama kali saya mengenakan hijab.
TAHUN 2010
Hubungan dengan orang tua belum membaik, bahkan ketika saya pulang bapak masih selalu memandang sinis pada saya. Kali ini saya tidak takut lagi, karena saya tahu saya punya Allah yang akan selalu menjaga saya :)
Saya pun sudah memasrahkan pada Allah tentang fitnah-fitnah itu, saya yakin suatu saat jika memang sudah saatnya Allah akan menunjukkan segala kebenarannya.
Di akhir tahun itu bapak sudah mengetahui yang sebenarnya terjadi, Allah menunjukkannya melalui kakak lelaki saya. Di akhir tahun itu pulalah kesehatan mama saya semakin memburuk. Walaupun dalam hati saya masih sedikit kecewa pada mama karena tidak mau mendengar penjelasan saya, tapi saya harus menghilangkan perasaan itu, saya berkewajiban untuk menghormati beliau.
TAHUN 2011
Pada 28 januari tahun 2011 mama dipanggil oleh Allah. Sayang, sampai akhir hidupnya mama tidak memberi kesempatan pada saya untuk membuktikan perihal fitnah tersebut. Tapi saya yakin, sekarang mama tahu yang sebenarnya, Allah sendirilah yang menunjukkan pada beliau. Momen meninggalnya mama membuat keluarga kami semakin dekat,terutama bapak… beliau sudah bisa menerima keberadaan saya dengan hijab saya.
Senang juga karena tahun ini kakak ipar serta satu teman saya juga mulai berhijab (semoga kakak perempuan saya juga segera tergerak untuk mengenakan hijab, aamiin)
Alhamdulillah saya makin mantap dengan hijab ini, dan selalu berusaha belajar memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik, dan saya berharap dengan saya berhijab saya tidak menambah dosa untuk orang tua (karena saya masih menjadi  tanggung jawab orang tua), aamiin. Jadi cobaan memang sengaja dikasih Allah untuk ‘menjewer’ saya yang melupakan niat berhijab, hehehe…
Tentang orang yang memfitnah saya, semoga segera ditunjukkan jalan yang benar dan ga bikin ‘rusuh’ lagi..
Inilah cerita proses saya berhijab..

assalamualaikum ukhti,
Nama saya Nabila Ariani. Mau juga berbagi cerita tentang berhijab ukhti :)
Saya berasal dari Semarang tapi bukan orang kota, lebih tepatnya orang desa. Wajar saja seluruh keluarga besar saya lekat sekali dengan islami. Hampir keluarga besar saya wanitanya memakai jilbab. Waktu itu saya masih duduk dibangku SMA, selalu ada pengajian keluarga rutin tiap 1 bulan sekali. Sampai diotak saya masih teringat sekali sewaktu berdiskusi dengan isi kultum yang membicarakan tentang jilbab. Waktu itulah saya mulai berfikir ingin sekali untuk memakai jilbab.
Tapi, hati rasanya masih sangat sangat berat untuk melakukannya karena masih suka dengan dunia mode, masih sering ambil job yang menuntut saya untuk tidak memakai jilbab. Yah, itu lah yang membuat saya begitu berat. Berfikir dan berfikir nanti saja waktu saya masuk kuliah memakai jilbab. Ngomong sama papa dan mama “ma, pa, kalo nabila pake jilbab gimana?” kataku. “yaa bagus kalau begitu”, kata mama. “terserah kamu saja,papa senang. kalau memang sudah yakin pakai saja. papa nggak mau lihat kamu berjilbab tapi dilepas-lepas”, kata papa. Senang rasanya mendengar jawaban mama dan papa dengan tersenyum dan begitu mendukung saya.
Waktu berlalu hanya keinginan yang saya bawa didalam hati untuk memakai jilbab. Yap, sampai akhirnya saya kuliah dibandung belum terlaksana juga untuk berjilbab. kakak sayalah yang selalu menghubungi saya via telp cerita banyak hal salah satunya menyindir saya kapan untuk memakai jilbab. Malu rasanya untuk menjawabnya, hanya jawaban belum siap yang selalu saya lontarkan. “Jangan bilang nggak siap dek, semua itu harus dipaksakan. Nanti kamu juga terbiasa kok, Ayo pake nanti mas beri hadiah deh”, kata kakak. Tersipu malu “eh eh, hadiah apa mas?, jawabku. “Rahasia doong”, jawab kakak. Inilah kakak sepupu saya yang begitu mendorong saya untuk memakai jilbab.  Tetapi tetap saja menunda niatku untuk memakai jilbab.
Minggu itu dikampus ada acara mentoring yang mengharuskan saya untuk memakai jilbab. Ya, saya memakai jilbab dan komentar teman-teman wanita saya cuma “Cantik”. Saya hanya tersenyum saja. Untungnya bukan laki-laki yang ngomong seperti itu, soalnya saya selalu melontarkan kata gombal bila ada laki-laki yang berbicara “cantik”. Niat saya semakin kuat untuk memakai jilbab ukhti. Dan semakin kuat lagi saat mendengankan ceramah diacara mentoring yang diisi oleh teh Ninih Mutmainnah yang menceritakan tentang wanita berjilbab. Pas sekali dengan keadaanku waktu itu yang lagi galau untuk memakai jilbab.
Senin, ada mata kuliah agama. Niat saya untuk memakai jilbab waktu kuliah sampai selesai kuliah, mengerjakan tugas, keluar rumah pun jilbab masih saya pakai. Tenang rasanya memakai jilbab, tidak seburuk yang saya bayangkan. Mulai hari itu juga saya memutuskan untuk memakai jilbab. Saya tinggalkan job, Saya tinggalkan baju-baju untuk adik-adik saya. Tanpa paksaan dan tanpa sepengetahuan orang saya memutuskan untuk memakai jilbab. Masih teringat begitu jelas waktu itu saya hanya bermodalkan 1 jilbab berwarna putih saja.
Berkah Memakai Jilbab
Dari sebelum berjilbab, saya suka ngeblog yang berisi tentang cerita hidup, tapi lambat laun sepertinya terlalu privasi untuk dipublikasikan. Setelah berjilbab, saya sering sekali browser designer-designer berjilbab yang tetap stylish. Senang rasanya melihat wanita tetap terlihat cantik saat berjilbab. Sejak itu saya menulis blog tentang fashion, walaupun sebenarnya saya tidak begitu pintar tentang fashion.
Tapi alhasil, banyak respon positif dari teman-teman saya tentang blog fashion saya dan beberapa teman saya meminta untuk mengajarkan cara berjilbab caraku sendiri. Alhamdulillah, senang rasanya bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Saya percaya, kesiapan setiap orang itu berbeda-beda. Tidak bisa memaksa seseorang untuk langsung berjilbab. Ujung-ujungnya mereka hanya lepas pakai lepas pakai saja. Yang bisa saya lakukan hanya meyakinkan ukhti-ukhti yang belum berjilbab bahwa berjilbab itu indah, nyaman, mencegah untuk tidak melakukan hal yang negatif.
Berjilbab Itu Kuno?
Hey ukhti, siapa bilang berjilbab itu kuno? Lebih milih mana antara cantik dimata orang lain atau cantik dimata Allah? Berjilbab tetap stylish juga bisa ukhti. Lihat saja seperti Hana Tajima Simpson, Dian Pelangi. Mereka berhijab tapi tetap stylish ukhti. Berjilbab itu sudah kewajiban bagi wanita muslimah untuk menutup auratnya. Bukankah semua wanita itu lebih cantik dan lebih anggun dengan berjilbab? Selama ini saya belum mengalami kesulitan dalam berjilbab, tetapi proses menuju berjilbabnya lah yang sangat sulit.
Saya sangat berterima kasih kepada orang-orang yang mendukung saya untuk berjilbab. Terima Kasih yang sudah membacanya. Semoga bermanfaat dan membantu meyakinkan ukhti yang masih ragu-ragu untuk berjilbab :)

Perjalanan Panjang Untuk Berhijab

Assalamu’alaikum Wr. Wb. ukhti..
Nama saya Sarah Audia Hasna. Saya mendapatkan info tentang Mari Berhijab dari teman saya, waktu baca cerita pengalaman memakai hijab, saya menjadi tergerak untuk sharing juga.
Saya memutuskan untuk benar-benar memakai jilbab pada 9 Mei 2011, panjang sekali perjalanan saya sampai akhirnya memantapkan hati memakai jilbab..
Saya dilahirkan sebagai WNI keturunan arab, ayah saya arab jawa, mama saya arab betawi. Dari kecil saya dididik untuk memiliki fondasi agama Islam yang kuat. Sejak kecil saya sudah diajari mengaji di TPA, sholat 5 waktu, namun tidak diharuskan untuk berjilbab. Ibu dan tante-tante saya tidak ada yang memakai jilbab walaupun kami keturunan arab, tapi keluarga ibu saya sangat modern.
Saya disekolahkan di sekolah umum, saya mulai bergaul dengan teman-teman saya waktu itu. Kami membentuk geng di sekolah kami dari SMP sampai SMA, geng cewek berseragam ketat dan rok mini, anggota modern dance, bahkan saya termasuk ketua grup modern dance kami. Jika kami sedang pentas, kostum kami saat itu sering yang minim bertanktop ria,rok mini, Masya Allah, saya malu kalau ingat jaman jahiliyah dulu. Saya sering dimarahi papa mama karena pakaian saya, tapi waktu itu namanya juga anak ABG saya pun cuek bebek.
Tahun 2004 alhamdulillah saya diterima sebagai mahasiswa kedokteran di FK Universitas Negeri ternama di Yogyakarta. Saya pun mulai aktif kuliah, waktu di perkuliahan saya sering ditegur karena pakaian saya yang ketat, rok saya yangg mini, dan keengganan saya untuk mengikuti acara-acara kajian agama Islam di kampus.
Saya malah makin aktif membentuk grup modern dance baru. Hari-hari di kampus terus berjalan, saya tidak pernah berpikir akan memakai jilbab di usia muda. Bahkan saya menetapkan usia 50 tahun untuk memakai jilbab, (padahal belum tentu umur saya sampai segitu). Banyak yg heran sama saya, ini kok cewek arab tapi bajunya kayak gini, sholat sih sholat tapi kok berpakaiannya kayak gini.
Sampai suatu ketika saat saya sedang koass (sarjana kedokteran yang sedang mendalami pendidikan klinis di RS), tiba-tiba ada seorang bapak dengan demam berdarah, yang ketika masuk RS baik-baik saja. Namun 2 hari kemudian mengalami kondisi yang darurat. Saya jaga sendirian waktu itu, saya berusaha mengatasi kegawatdaruratan bapak itu, sampai akhirnya senior saya membantu. Namun pada akhirnya nyawa bapak itu tidak tertolong.
Dan ketika itu juga saya tidak bisa tidur malamnya, saya menangis sejadi-jadinya bukan karena saya merasa gagal karena itu takdir. Tapi tiba-tiba saya menyadari kekhilafan saya selama ini, dan tiba-tiba saya terpikir tentang KEMATIAN. Setelah ini saya takut sekali jika mati dalam keadaan aurat saya masih terumbar dan amal ibadah saya yang masih minim.
Setelah itu saya mulai coba-coba memakai jilbab, masih lepas pakai.saya mulai aktif di kegiatan pengajian. Tunangan saya sangat mendukung apalagi tunangan saya itu background keluarga dengan keyakinan Islam yang kuat karena keluarga pesantren. Sampai saya sudah praktek menjadi dokter, jika jalan-jalan keluar saya suka memakai jilbab.
Tapi ketika di Rumah sakit saya belum pakai karena Rumah Sakit tempat saya berkerja mayoritas non muslim, saya waswas jika karir terhambat. Selain itu saya juga masih gemar gonta ganti cat rambut dan model rambut, saya masih suka pakai setelan-setelan rok yangg tidak mungkin saya pakai lagi jika memakai jilbab.
Malam 8 mei 2011, saya membaca sebuah buku tentang fiqih, ada sebuah cerita dimana ada seorang wanita mesir berpakaian seronok, berambut merah mengalami kecelakaan bis, dan mati seketika dalam keadaan aurat terumbar kemana-mana, sholat jarang, dan tidak pernah mengaji. Naudzubillah, saya kembali tidak bisa tidur dan memikirkan jilbab.
Akhirnya pagi 9 mei 2011, dengan tekad bulat saya memutuskan untuk berhijab, disambut dengan ayah saya yang sangat bahagia melihat saya berhijab.
Ujian demi ujian melanda saya yang baru menjalani hari-hari pertama memakai hijab ke kantor, saya merasa ada beberapa pandangan sinis tidak suka dan komentar tidak enak. Belum lagi di keluarga om dan tante saya yang sangat modern yang mengatakan wajah saya sangat aneh jika memakai jilbab, lebih terlihat tua dibanding umur saya yang seharusnya.
Bahkan ada yang mengatakan dengan sangat pedas membuat saya sering menangis sendiri. Bahkan teman-teman lama saya merasa asing dengan saya yang sekarang.
Bulan demi bulan saya lewati dengan jilbab saya yang semakin rapi, Alhamdulillah ada saja keringanan dan kemudahan untuk saya. Saya akan dipindahkan ke bagian yang lebih menantang ilmu saya di bidang kedokteran. Rezeki Alhamdulillah datang terus sampai saya bisa membiayai uang masuk kuliah adik saya.
Semakin lama saya merasa semakin tenang dan nyaman dengan jilbab ini, saya merasa lebih sabar. Lebih rajin sholat 5 waktu di awal waktu, sholat sunah, mengaji, belajar tentang Islam lebih mendalam. Dulu impian saya jika menikah nanti ingin memakai sanggul dan kebaya gaun model Anne Avantie, tapi sekarang saya ingin menutup rapat aurat saya saat menikah dan aurat saya seutuhnya hanya untuk suami saya nanti.
Itulah kisah saya, semoga bermanfaat, dan do’akan tetap istiqomah. Wassalam..

Hijab membuatku mudah bergaul

Assalamu’alaikum hijabers…

Saya Adek Kharisma Rezal Fajrin, bisa dipanggil Adek. Saya seorang pelajar SMK di kota Malang, yang sekarang sedang menjalani Praktek Kerja Industri (Prakerin) atau magang di Sleman, Yogyakarta.
Saya juga pengen ikutan berbagi cerita nih, buat ukhti sekalian, tentang gimana awal mulanya saya memutuskan untuk berhijab, gimana nyamannya saat berhijab, dan apa saja yang saya alami setelah berhijab. So check this out, ukhti..
Awal saya memutuskan untuk istiqomah memakai hijab adalah saat awal saya duduk di bangku SMK. Sebelumnya saya sudah memakai hijab saat masih SD, tapi itu dulu. Saat SMP saya melepas hijab dengan alasan saya belum siap karna tingkah saya yang tidak bisa diam, bahkan bisa dibilang hyperactive.
Selain itu saya ingin sekali seperti ibu saya dulu, menjadi seorang pemain basket. Saat saya bilang ke ibu saya tentang keputusan saya itu, ibu saya bilang, “Main basket pakai hijab gak ada yang ngelarang kok, kan sekarang sudah banyak yang pakai”. Kemudian saya membantah dengan alasan kalau pakai hijab, harga seragamnya makin mahal (secara saya hanya anak yang cukup mampu, tidak terbilang kaya). Tapi ibu saya juga menjawab, “Kalo untuk jalankan agama dan berbuat kebaikan, uang itu bisa dipikirkan lagi, nduk.”
Akhirnya ibu saya menuruti niatan saya untuk tidak berhijab. saya pun mengikuti ekskul yang saya idam-idamkan sejak SD, yaitu basket. Tapi itu hanya saat kelas 1 SMP. Merasa tidak cocok dengan teman-teman satu ekskul, saya akhirnya keluar tim saat naik ke kelas 2. Sejak di SMP pun, saya jadi pribadi yang sangat berbeda dengan saat di SD dulu. Saya sering merasa kesulitan untuk bergaul dengan teman-teman, apalagi dengan lawan jenis. Saya seperti bukan diri saya, rasanya seperti memakai topeng selama masa SMP itu.
Ada juga alasan lain yang mendorong saya untuk berhijab. Ketika nenek saya tahu saya memutuskan untuk tidak berhijab, beliau memberi berbagai nasehat buat saya. Ketika ditanya kapan akan mulai berhijab, saya asal menjawab “Nanti nek, kalo udah lulus SMP”. Ada beberapa kalimat yang benar-benar saya hapal sampai sekarang yang nenek saya utarakan, “Gak malu tah kamu, nenek ini yang nyuruh anak asuh nenek buat berhijab, eh malah cucu nenek sendiri gak mau pake hijab”. Nenekku memang pemilik sebuah yayasan panti asuhan yatim piatu yang berbasis Islam, jadi semua anak asuh putrinya wajib berhijab. Pertengahan kelas 2 SMP, nenekku dipanggil ke rahmatullah. Perasaan sedih dan menyesal timbul dalam diri saya.
Lulus SMP, saya masuk ke sebuah SMK swasta di kota saya. Dan sesuai janji saya, saya berhijab. Dan benar-benar saya sadari ada perubahan yang terjadi pada diri saya. Saya yang sebelumnya kesulitan untuk bergaul, sekarang saya senang membuka diri. Teman saya banyak, tidak seperti saat SMP.
Selain itu saya juga lebih percaya diri. Setiap ada event di sekolah, saya berusaha mengikuti. Mulai dari menyanyi, lomba fotografi, lomba mading, pertandingan voli, basket, tilawatil Quran, semua saya ikuti. Tidak seperti saat SMP, saya selalu menunggu ditunjuk untuk mengikuti event, dari pada mengajukan diri.
Hijab tidak membatasi ruang gerak saya. Hijab membuat saya lebih percaya diri. Hijab membuat saya lebih mudah bergaul dengan orang lain. Jadi apalagi alasan untuk tidak menggunakan hijab?

Wassalamu’alaikum..

Hijab, I’m in Love!

Bulan ramadhan tahun 2003, adzan maghrib berkumandang di langit Cilacap. Saatnya melepas dahaga setelah kurang lebih 14 jam menjalani kewajiban perpuasa. Ahh sejuk sekali berbuka puasa ditengah keluarga sederhana namun penuh warna ini.
Usai berbuka dan shalat maghrib berjamaah, aku langsung sigap bersiap-siap menuju masjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Biasa, jiwa-jiwa semangat masih membungkus di darah gadis mungil berusia 11 tahun ini (penulis).
Layaknya anak-anak SD, tak pernah diliburkan oleh PR (Pekerjaan Rumah). PR pada bulan ramadhan kali ini adalah merangkum hasil kajian pada kuliah subuh dan khutbah tarawih selama bulan ramadhan. Aku mendatangi papan pengumuman di masjid untuk melihat siapa yang hari ini akan mengisi khutbah tarawih dan tema apa yang akan dibahas.
Belum lama melihat papan, rupanya mataku tiba-tiba ingin melirik pada selembar kertas warna-warni yang tergeletak di samping papan pengumuman. Kertas ini benar-benar memanjakan mata. Aku mencoba membaca kata demi kata yang tertera pada kertas ini. Dan benar saja, tak hanya memanjakan mata namun isinya juga memanjakan hati. Pesantren Kilat TPQ Masjid Nurul Hidayah. Setelah merampungkan shalat tarawih, aku bersegera pulang dan meminta izin pada ibu dan bapak untuk mengikuti acara pesantren kilat. Dibolehkan, yeee. Senyum mengembang di wajah imutku (uhuk).
Materi pesantren kilat kali ini tentang tata cara shalat. Pematerinya adalah seorang ustadzah hijaber. Rupanya sangat cantik dan cerah. Tubuhnya enerjik meski sedang menggendong calon buah hati dalam kandungannya. Beberapa detik mataku tak berkedip melihat aura beliau. Kata-kata ilmunya mengalun indah membuat peserta pesantren kilat benar-benar meresapi. Suatu saat nanti, aku ingin seperti ustadzah itu, pintaku dalam hati. Ahh bagaimana mungkin, ustadzah itu berhijab sangat rapi dan lebar sedangkan aku berhijab saja belum. Pikiranku berkecamuk sendiri.
Keesokan harinya, setelah pesantren kilat dan bulan ramadhan selesai, aku menyibukkan diri untuk mengetahui tentang hijab. Maklum saja, di daerahku masih minim sekali yang berhijab. Aku sangat ingin tahu kenapa perempuan harus pakai hijab. Sampai pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dianggap bodoh pun kucari tahu, seperti, apakah perempuan yang sedang haid masih boleh pakai hijab atau tidak. Karena setahuku perempuan yang sedang haid itu sedang tidak suci, sedangkan hijab bagiku adalah pakaian yang suci. Semua kugali karena aku sangat ingin tahu dan tentunya karena cita-cita mulia, ingin seperti ustadzah itu.
Setelah kutemui jawaban-jawabannya, bahwa ternyata memakai hijab itu kewajiban bagi setiap muslimah. Dan ternyata perempuan yang sedang haid pun tetap boleh menggunakan hijab, bahkan tetap berlaku kewajiban jika perempuan tersebuat keluar rumah atau sedang behadapan dengan non mahromnya. Akupun mulai belajar menggunakan hijab. Aku memulainya ketika ada mata pelajaran agama islam di sekolah. Dengan hem dan rok pendek, kepalaku terbalut hijab cantik, lucu sekali.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, teman-teman menertawakanku. Belum lagi ulah-ulah usil teman-teman di sekolah ketika melihat aku berpakaian demikian. “Aku hanya ingin mencoba menjalankan perintah Allah saja kok teman, tapi aku tidak punya pakaian sekolah muslim”, Jeritku dalam hati. Ahh, semangat berhijabku jadi surut, namun tekadku tetap kuat guna menaati perintah Allah. Hal ini berjalan hingga masa jabatanku sebagai anak SD berakhir.
Alhamdulillah, diterimalah aku pada sebuah SMP yang cukup favorit. Kini tekadku sudah bulat. Aku memutuskan untuk membeli seragam muslim untuk sekolah SMP, supaya aku bisa berhijab sepenuhnya. Teringat juga selama satu pekan ini, mimpiku sungguh sangat aneh. Merasa malu dan ada hal yang mangganjal ketika aku tidak berhijab. Hingga setiap bangun aku menangis karena aku merasa auratku telah terbuka dan dilihat oleh banyak orang. Mungkin ini hidayah Allah. Baik, ini justru membuat tekadku untuk berhijab menjadi semakin dan semakin kuat.
Kuputuskan untuk berdiskusi dengan ibu, aku menjelaskan padanya bahwa tekadku untuk berhijab sudah besar. Ibu pun terdiam mendengar serentetan penjelasanku, hanya keluar sepatah kata bahwa ibu tidak setuju. Ah, betapa sakit rasanya mendengar patahan kata itu. Betapa sakit rasanya ketika niat baik tak terdukung. Ibu menerangkan lagi bahwa sebenarnya beliau kurang suka jika aku berhijab, masih terlalu kecil katanya. Melelehlah air mataku dibarengi dengan irama sesenggukan ketika aku berpendapat bahwa aku tidak mau sekolah lagi jika tidak diperbolehkan pakai hijab. Keluargaku memang bukan keluarga yang agamis, sampai-sampai niat baik anaknya ini benar-benar tak mendapat dukungan.
Aku mengurung diri di kamar selama dua hari. Tak keluar dan tak mau berbicara dengan keluarga di rumah. Hanya sesekali keluar untuk MCK, makan dan shalat. Hari ketiga, bapak pun memberanikan diri mengetuk pintu kamarku. Berharap ada kabar baik, kubuka pintu kamarku perlahan. Bapak menatap wajahku yang layu dan mata yang sudah sangat sembab karena terlalu lama menangis. “Betul kamu serius ingin pakai hijab mba?”, begitu tanya bapak. Aku mengangguk sambil kutunjukkan salah satu artikel di majalah yang sebenarnya sudah lama ku beli, judulnya “Ayat Spesial dari Allah untuk para Muslimah”.
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya dan menutup kain kerudung ke dadanya. Janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka atau anak-anak mereka.” (QS. An-Nur : ayat 31).
Melihat tekadku yang begitu kuat, akhirnya bapak setuju. Beberapa menit kemudian ibu pun tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Wajah layu ini seketika berubah menjadi wajah penuh senyum merona. Ku peluk beliau berdua seraya kuucap terimakasih yang teramat.
Kini aku telah menjadi gadis berhijab. Meski merasa hidayah ini terlalu dini datang padaku. Namun aku sangat bersyukur pada Allah. Ini bukti bahwa Allah sangat sayang padaku. Dua tahun setelah aku berhijab, ibu mulai menyusul memakainya. Kata ibu ternyata berhijab itu nikmat.
Selain nikmat untuk diri sendiri karena terhindar dari dosa dan fitnah, berhijab juga nikmat dari Allah yang hanya diberikan untuk perempuan-perempuan yang beriman. Semoga aku dan ibu dapat istiqomah untuk berhijab. Seraya terus memperbaiki diri supaya dapat sesholeh ustadzah yang kutemui saat ramadhan kemarin. Hidayah itu titipan Allah, bila kita tidak istiqamah menjaga titipan-Nya, maka mudah bagi Allah untuk memindahkan hidayah itu kepada orang lain. So, jagalah hijab ini.
Insya Allah..
Hijab I’m in love! (^_^)

Ketika Hijab Menjadi Keindahanku

“Hari gini gak pake jilbab???”
Celetukan yang pernah aku dengar sekali dari mulut temanku. Alih-alih mengiyakan, aku malah terheran-heran. Memangnya kenapa kalau memang masih ada orang yang belum memakai jilbab. Toh, memakai jilbab itu bukan suatu trend, melainkan panggilan hati.
Aku sendiri mulai memakai jilbab sejak tahun 2005. Dimana waktu itu aku masih menjadi seorang waitress di salah satu resto jepang. Aku ingat betul alasan pertama kali memutuskan untuk memakai jilbab.
Saat itu dalam rangka Idul Fitri dan aku pergi bersilaturahmi dengan mengenakan jilbab seharian kemana-mana. Hari kedua perayaan Idul Fitri, aku sempat berpikir, “Kemarin, seharian aku mengenakan jilbab. Kalau hari ini aku keluar rumah dengan kepala pelontos maka malulah aku karena hanya menggunakan jilbab di saat-saat tertentu saja.” Akhirnya aku memutuskan memakai jilbab di hari-hariku kemudian.
Namun satu yang masih menjadi ganjalan saat itu, di tempat aku bekerja tidak diperbolehkan menggunakan jilbab. Memang, bukan hanya aku saja pegawai yang berjilbab, masih ada 2 orang temanku lagi yang memakai jilbab. Jadilah aku dan kedua temanku itu terpaksa melepas jilbab pada saat jam kerja. Dan baru memakainya lagi setelah jam kerjaku berakhir…
Setelah 2 tahun lamanya aku lepas-pasang jilbab, akhirnya aku berhenti bekerja dan memutuskan untuk meneruskan kuliahku. Pada saat awal-awal kuliah itulah imanku diuji. Bukannya semakin yakin mengenakan jilbab, aku malah makin sering “lupa” untuk memakainya.
Terkadang aku berpikir, “toh, hanya keluar sebentar saja, dan dekat pula. Untuk apa repot-repot memakai jilbab.” itulah pikiranku saat itu yang sebenarnya aku pun malu melakukannya, tapi entah kenapa ada rasa malas untuk mengenakannya lagi.
Dan akhirnya aku tidak pernah mengenakan jilbab lagi. Aku hanya mengenakan jilbab ketika berkunjung ke rumah orang tua suamiku (yang saat itu masih menjadi pacar), alasannya adalah, karena orang tuanya memang menginginkan anaknya berpacaran dengan perempuan yang memakai jilbab dan pada saat awal aku dikenalkan pada orang tuanya, aku memang masih rajin mengenakan jilbab. Jadilah aku menjadi seorang yang munafik kala itu.
Sampai suatu hari, aku ditegur oleh orangtuaku mengenai perilaku menyimpangku itu. Ya..aku pun menyadarinya..
bukan karena trend aku memakai jilbab,
bukan karena malu aku memakai jilbab,
dan bukan karena ingin disukai aku memakai jilbab
Memakai jilbab memang sudah wajib hukumnya bagi seluruh perempuan muslim. Rasulullah bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yg aku belum pernah melihatnya, Laki-laki yg tangan mereka menggenggam cambuk yg mirip ekor sapi utk memukuli orang lain dan wanita-wanita yg berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian”.
Dan inilah aku sekarang, mulai yakin memakai jilbab pada tahun 2008. Dan aku semakin nyaman memakainya.
5 hal yang membuatku nyaman mengenakan jilbab..
1. Niat
Niat adalah yang paling utama. Tidak akan terbentuk pribadi sholehah bila kita memakai jilbab tanpa disertai niat kita untuk menutupi aurat kita.
2. Jilbab is not a trend, but it’s trendy
Ya, ketika aku menyadari mengenakan jilbab bukanlah suatu trend. Tapi ketika memakai jilbab kita bisa menjadi seseorang yang trendy. Bukankah seorang wanita memang senang me-mix and match-kan segala sesuatunya?
3. Praktis
Mungkin bukan hanya aku saja yang kadang diterpa rasa malas untuk keramas, apalagi kalau kita sudah terlambat untuk pergi kerja. Walaupun rambut kita lepek, berminyak, dan definitely not one of our best hair day, dengan memakai jilbab, semua masalah teratasi. :D
4. Senjata dalam bergaul
Secara tidak langsung, dengan berjilbab kita bergaul dengan lebih “teratur”. Tau mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang muslimah cukup dengan alasan “malu, karena jilbab”.
5. Dipuji Suami (gyahahahahaha…)
Seriously, ini memang bener. Tidak pernah ada kata “mengurangi kecantikan” ketika kita memakai jilbab, melainkan segala sesuatu yang terpancar dari jilbab kita semua itu adalah keindahan.
Walaupun sekarang aku masih mengenakan jilbab “seadanya” tapi mudah-mudahan aku selalu dihindarkan dari segala sesuatu yang negatif. Allah menjagaku melalui selembar kain yang tersampir di kepalaku, perlindungan-Nya lebih dekat daripada deyut nadi kita. Aku berdoa mudah2an aku akan selalu ada di jalan yang Kau ridhoi Yaa Rabb. Amin….

Awal kisah pertemanan doraemon dan nobiita

Sebagian kita yang menggemari manga Doraemon saat ini mungkin tidak mengetahui sejarah kisah pertemuan pertama Doraemon dan Nobita yang biasa kita tonton di RCTI. Maklum, kisah Doraemon pertama kali diterbitkan pada Desember 1969 di Jepang. Sedangkan untuk di Indonesia, Doraemon datang di tahun 1974. Buat yang penasaran, berikut Anda Tahu? ceritakan kembali awal pertemuan Doraemon-Nobita.

Misi Doraemon : Memperbaiki Masa Depan Nobita

Kehidupan awal Doraemon tidak begitu baik. Ia adalah sebuah robot gagal yang dilelang kepada sebuah keluarga miskin yang terlilit utang, yang tak lain adalah keluarga keturunan Nobi Nobita. Doraemon pernah menjalani masa-masa berat: Ia hanya menjadi penjaga bayi setelah gagal melewati ujian di akademi robot, kedua telinganya hancur setelah digigit robot tikus, catnya luntur akibat ulahnya sendiri, dan masih banyak kisah sedih yang ia lalui pada tahun pertama sejak kelahirannya. Sampai suatu ketika, keluarganya mengirimkan ia kembali ke masa lalu, kira-kira 250 tahun yang lalu, zaman dimana Nobita Nobi, leluhur keluarga ini, masih hidup di Tokyo.

Misi Doraemon adalah untuk menolong Nobi Nobita (buyut dari Sewashi yang memiliki Doraemon). Nobita adalah seorang anak yang selalu mengalami nasib sial dan tak punya kemampuan apa-apa. Ia bodoh dalam pelajaran sekolah dan tidak bisa berolahraga, Nobita hanya berbakat dalam tembak-menembak,bermain karet, dan tidur; kemampuan yang hampir tak berguna di zaman Jepang modern. Inilah alasan mengapa ia gagal menjalani kehidupannya. Dan Doraemon dikirim dari masa depan untuk menjadikannya seorang pria yang sukses. Sangat ironis, sebuah robot gagal datang membantu seorang anak yang gagal. Tetapi pada kenyataannya, persahabatan kedua anak ini membuat mereka menjadi seseorang yang lebih baik.

Doraemon tiba pada tahun 1969, pada hari Tahun Baru Jepang. Ia keluar dari laci meja milik Nobita, dan sejak saat itu ia tinggal bersama Nobita, misinya adalah untuk mencegah Nobita menjadi orang gagal. Setiap kali Nobita tertimpa masalah, Doraemon akan segera membantu dengan alat-alat ajaibnya.

Kelihatannya misi Doraemon berhasil, karena ketika mereka menjelajah ke masa depan, Nobita melihat dirinya menikah dengan Shizuka, bukan dengan Jaiko. Dia juga melihat keturunannya hidup dalam kondisi yang lebih baik daripada ketika Sewashi mengirim Doraemon dulu; bahkan keturunan Nobi mampu membeli robot yang "tidak gagal", Dorami.